Artikel

Saat ISLAM Memandang Hidup

11 Jul 2026

“Hidup yang menyala adalah hidup yang menghadirkan manfaat, kasih sayang, dan perbaikan.”

Masih membahasa tentang Falsafah “Urip Iku Urup” yang mengandung pesan bahwa hidup seharusnya menyala, menghadirkan cahaya, kehangatan, dan manfaat bagi orang lain. Manusia tidak cukup hanya ada secara biologis, tetapi perlu meninggalkan jejak kebaikan melalui pikiran, perkataan, pekerjaan, dan pengabdian. Semangat ini berkelindan dengan gagasan Memayu Nusantara, yakni ikhtiar merawat, memperindah, menjaga, dan memuliakan kehidupan bersama di tanah Nusantara.

Islampun memandang kebijaksanaan budaya tersebut dapat diterima sebagai nilai etis selama tidak ditempatkan sebagai sumber akidah atau menggantikan ajaran agama. Islam memandang kehidupan sebagai amanah dari Allah. Ibadah tidak berhenti pada hubungan pribadi dengan Tuhan, tetapi juga melahirkan tanggung jawab sosial yaitu menolong yang kesusahan, menjaga martabat manusia, bekerja dengan jujur, merawat lingkungan, dan mencegah kerusakan. Dengan demikian, “urup” dapat dipahami sebagai pancaran iman yang tampak dalam amal saleh dan kemaslahatan, sebagaimana QS. Al-Mā’idah [5]: 2

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Artinya: “Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”

Ayat tersebut menegaskan bahwa manfaat tidak hanya lahir dari tindakan individual, tetapi juga dari kerja bersama yang diarahkan pada kebajikan. Dalam konteks Nusantara, nilai ini tampak dalam gotong royong, pelayanan kesehatan, donor darah, bantuan hukum bagi masyarakat, pendidikan, penguatan ekonomi warga, serta solidaritas ketika terjadi bencana. Memayu Nusantara karenanya bukan slogan, melainkan gerakan kolektif yang menyalakan daya hidup masyarakat dan menghindarkan kebersamaan dari kepentingan yang merusak.

Lebih lanjut dalam QS. Al-Qaṣaṣ [28]: 77

وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ

Artinya: “Berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.”

Perintah berbuat baik disertai larangan merusak bumi menunjukkan bahwa kebermanfaatan manusia mencakup dimensi sosial sekaligus ekologis. Menjadi “urup” berarti mengelola pengetahuan, kekuasaan, kekayaan, dan sumber daya sebagai amanah. Di negeri yang kaya akan budaya dan alam, cinta kepada Nusantara perlu diwujudkan melalui keadilan, penghormatan kepada keberagaman, pelestarian warisan budaya, kebersihan lingkungan, penggunaan sumber daya secara bijak, serta keberanian menolak korupsi, kekerasan, dan eksploitasi.

Masih relevan dengan surat diatas, QS. Az-Zalzalah [99]: 7

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

Artinya: “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.”

Ayat ini memberi dasar bahwa tidak ada kebaikan yang terlalu kecil untuk dilakukan. Senyum yang tulus, memberi jalan, menjaga ucapan, mendengarkan orang yang sedang susah, menanam pohon, berbagi ilmu, dan bekerja secara amanah merupakan bentuk “urup” sehari-hari. Manfaat besar sering lahir dari nyala-nyala kecil yang dilakukan terus-menerus. Karena itu, ukuran hidup bukan hanya kedudukan atau lamanya usia, melainkan kualitas amal dan kebaikan yang ditinggalkan.

Yang lebih lengkap dijelaskan dalam hadist HR. Muslim No. 2699a

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Artinya: “Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.”

Hadis tersebut memperlihatkan hubungan erat antara kepedulian horizontal dan pertolongan Allah. Menolong bukan hanya memberi materi, tetapi juga menghadirkan waktu, ilmu, tenaga, perlindungan, nasihat, dan keberpihakan kepada keadilan. Semakin besar kemampuan seseorang, semakin besar pula amanah manfaatnya. Pemimpin menyalakan manfaat melalui kebijakan yang adil; profesional melalui keahlian dan integritas; pengusaha melalui usaha yang halal dan menyejahterakan; sedangkan warga melalui kepedulian dan partisipasi sosial.

Islam melihat Memayu Nusantara sebagai Laku Kebermanfaatan

(وخير الناس أنفعهم للناس (رواه الطبراني

Memayu Nusantara dalam bingkai “Urip Iku Urup” dalam ajaran Islam dapat diwujudkan dalam tiga hubungan yang seimbang. Pertama, hubungan dengan Allah melalui iman, syukur, dan ibadah. Kedua, hubungan dengan manusia melalui kasih sayang, keadilan, persaudaraan, dan pelayanan. Ketiga, hubungan dengan alam melalui pemeliharaan serta pencegahan kerusakan.

Ketiganya membentuk kehidupan yang utuh, saleh secara pribadi, bermanfaat secara sosial, dan bertanggung jawab secara ekologis. Di tengah keragaman suku, agama, bahasa, dan adat, semangat ini juga mengajarkan bahwa cahaya tidak semestinya membakar perbedaan. Cahaya yang baik menerangi, menghangatkan, dan menunjukkan jalan. Oleh sebab itu, warga Nusantara dipanggil untuk memperkuat persatuan, menghormati sesama, menolak kebencian, serta bekerja sama dalam urusan kemanusiaan dan kebaikan bersama.

Pada akhirnya, “Urip Iku Urup” menemukan kedalaman maknanya ketika hidup diarahkan untuk mencari rida Allah dan menghadirkan maslahat. Manusia yang benar-benar hidup bukanlah yang hanya menuntut dunia melayaninya, melainkan yang bertanya: kebaikan apa yang dapat ia nyalakan hari ini? Ketika setiap orang menyalakan manfaat dari keluarga, lingkungan, profesi, dan kehidupan kebangsaan, cahaya-cahaya kecil itu akan menyatu menjadi kekuatan besar untuk memayu Nusantara—negeri yang damai, adil, lestari, dan bermartabat.

Urip iku Urup => saleh secara pribadi, bermanfaat secara sosial, dan bertanggung jawab secara ekologis

Kembali ke Artikel